Festival Film Lokal di bawah radar [F Magazine, November]

 

Jakarta International Film Festival/JiFFest bukan merupakan satu-satunya event tahunan. Sebenarnya masih banyak festival film lain yang juga telah berlangsung setiap tahun, walau tidak berskala nasional seperti Festival Film-Video Independen Indonesia/FFVII oleh Konfiden yang pernah berlangsung antara tahun 1999-2002. Festival film dengan skala lokal ini telah menjadi meeting point atau titik temu bagi para pembuat film lokal, baik secara langsung maupun melalui karya yang dipertontonkan bersama. Hal ini sesuai dengan fungsi sebuah festival film yang sebenarnya bukan semata sekedar urusan kompetisi dan hadiah uang, melainkan yang terpenting adalah membentuk jaringan kerja yang lebih luas. Hal ini bisa dilihat pada festival film mancanegara yang umumnya membuka jaringan ke berbagai festival film lain, stasiun TV atau bahkan bioskop. Mereka membuat program khusus sebagai bagian dari festival yang biasa disebut Film Market atau Pasar Film. Program yang hanya bisa diakses oleh para film buyer atau pembeli film ini berupa perpustakaan seluruh film yang mendaftar pada festival tersebut, baik yang terseleksi maupun tidak. Pada festival film internasional dengan skala besar seperti di Cannes, Berlin dan Sundance, bahkan berdiri stan-stan yang disewa oleh perusahaan/organisasi yang bergerak di bidang perfilman. Terdapat pula pesta khusus setiap malam selama festival berlangsung, sebuah ruang informal yang turut menunjang terbentuknya jaringan kerja dari berbagai pihak yang menghadiri festival ini.

 

Di Indonesia pada skala nasional, sayangnya fungsi sebagai meeting point masih belum sepenuhnya berjalan. Hal ini terjadi karena masih belum berfungsinya jaringan kerja dan informasi antara para penyelenggara festival film, maupun dengan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Stasiun TV misalnya, cenderung memilih menyelenggarakan “festival film” mereka sendiri, dari pada berterus terang bahwa mereka mencari film untuk program tayangannya atau bekerja sama dengan penyelenggara berbagai festival film yang ada. Jaringan bioskop kita pun memang hanya memutar film panjang (rata-rata berdurasi minimal 80 menit) dalam format selluloid. Sementara tempat-tempat alternatif seperti Teater Utan Kayu dan Kine 28 atau hadirnya bioskop alternatif seperti Art Cinema TIM dapat membuka kemungkinan baru walau rata-rata terletak di Jakarta. Bagi daerah di luar Jakarta, festival film lokal tetap memegang peranan penting.

 

Karakteristik umum festival film lokal pertama adalah masalah dana. Biasanya merupakan festival yang dananya berasal dari pihak sponsor swasta, donatur dan bahkan merogoh kocek sendiri. Dalam hal ini terdapat pengecualian pada beberapa festival film lokal, seperti Festival Film Pendek Bandung yang didanai oleh Dinas Budaya dan Pariwisata Jawa Barat, atau Parade Film Pendek bagian dari Pesta Seni Surabaya event tahunannya Dewan Kesenian Surabaya. Namun selama terdapat kebebasan pihak penyelenggara tanpa campur tangan pihak pendana, festival film lokal tetap dapat menjalankan fungsinya sebagai meeting point. Karakteristik kedua dapat dilihat dari penonton yang tidak dipungut biaya untuk menonton film alias gratis. Penonton juga mendapat buku acara atau daftar film yang diputar secara gratis. Dalam beberapa program, partisipasi penonton menjadi penting dan sangat diharapkan, seperti pada forum diskusi atau penentuan pemenang yang dipilih berdasarkan perolehan suara terbanyak penonton. Dan karakteristik yang ketiga adalah banyaknya film pendek (rata-rata berdurasi maksimal 30 menit) yang mengisi program pemutarannya atau bahkan festival tersebut mengkhususkan diri hanya memutar film pendek saja. Hal ini sejalan dengan demam ‘film independen’ yang muncul sejak kehadiran film Kuldesak (Riri Riza, Nan Achnas, Rizal Mantovani, Mira Lesmana) tahun 1998, diikuti oleh penyelenggaraan JiFFest dan FFVII tahun berikutnya. Terbukanya akses untuk membuat film ataupun menonton film alternatif kepada publik yang lebih luas dan didukung oleh teknologi handycam, telah meningkatkan jumlah film yang diproduksi secara ‘independen’ terutama film pendek. Sementara itu ciri yang keempat adalah sifatnya yang terbuka. Ini dapat dilihat dengan banyaknya kerja sama penyelenggara festival dengan berbagai komunitas film atau bahkan organisasi budaya lainnya. Kerja sama ini membuka kemungkinan bagi film-film lokal untuk diputar di luar lingkup lokalnya atau terdistribusi lebih jauh lagi, baik dalam bentuk roadshow yang dilakukan setelah festival berlangsung, dalam event yang berbeda atau bahkan dikirim ke berbagai festival film internasional.

 

Hadirnya berbagai festival film lokal di Indonesia memberikan banyak pengaruh positif. Pertama, festival film lokal merangsang tumbuhnya pembuat film baru. Saya melihat ini saat hadir 2 tahun terakhir di Pesta Sinema Indonesia, Purwokerto. Tahun 2004 hanya ada 4 film karya pembuat film lokal dari total 36 film yang diputar di acara ini, sisanya merupakan karya undangan. Pada tahun 2005 jumlahnya menjadi 25 film lokal dari total 78 film yang diputar. Dan dari 25 film tersebut 95% adalah pembuat film baru. Pengaruh kedua, festival film lokal memicu dibuatnya film yang mengangkat permasalahan lokal melalui bahasa dan sudut pandang yang lokal pula. Hal ini memperkaya bentuk, gaya dan bahasa dalam film-film Indonesia. Contohnya bisa dilihat melalui film pendek Peronika karya Bowo Leksono dari Purbalingga, menceritakan gagapnya mereka yang tinggal di desa terhadap teknologi yang biasa digunakan oleh mereka yang tinggal di kota. Film ini seluruh dialognya menggunakan Bahasa Banyumas dan berhasil masuk 12 besar kategori Film Pendek pada Festival Film Indonesia 2004. Dan yang terakhir, festival film lokal secara langsung membangun apresiasi publik terhadap film buatan Indonesia di tingkatan lokal, langkah awal dari terbentuknya pasar bagi film Indonesia di kemudian hari.  Terutama karena jaringan bioskop yang ada hanya mencapai kota-kota tertentu saja. Menurut saya, sebuah film seusai diproduksi tidak hanya membutuhkan promosi dan distribusi yang baik, melainkan juga referensi dan kredibilitas pembuatnya. Sesuatu yang harus dibentuk melalui kebiasaan menonton film yang berbeda dari yang sehari-hari dapat diakses dengan mudah, seperti tayangan sinetron di televisi misalnya. Dalam hal ini festival film lokal menjadi acuan bagi publik yang khusus datang untuk melihat tontonan alternatif. Maka dapat disimpulkan bahwa walau berada di bawah radar publikasi nasional, festival film lokal berperan penting terutama di negara Indonesia yang sangat luas ini.

 

Berikut ini profil singkat beberapa festival film lokal yang telah berlangsung secara rutin setiap tahunnya.

 

Pesta Sinema Indonesia/PSI - Purwokerto

Penyelenggara acara yang memilih untuk tidak menggunakan istilah ‘festival’ ini dimotori oleh komunitas budaya Youth Power. Berlangsung setiap bulan Juni sejak tahun 2001, acara ini menjadi salah satu kegiatan rutin diantara banyak kegiatan Youth Power di bidang lain seperti fotografi, teater dan seni rupa. PSI mengkhususkan diri memutar film yang dibuat dengan format video, baik film berdurasi pendek maupun panjang. Selain pemutaran film, terdapat juga pameran foto dan lukisan dari seniman lokal. PSI mulai tahun ini mengadakan kompetisi film 1 menit khusus bagi pembuat film Purwokerto, dimana pemenangnya ditentukan dari perolehan suara penonton terbanyak. Jumlah penonton PSI 2005 yang berlangsung selama 3 hari total mencapai 1000 orang. Kontak dapat melalui: Atmo via kiraradesperate@yahoo.com dan Dimas Jayasrana via hard2refuse@yahoo.com

 

Festival Film Dokumenter/FFD - Jogjakarta

FFD berlangsung setiap Desember sejak tahun 2002 dan mengkhususkan diri pada film dokumenter, baik dari Indonesian maupun luar Indonesia. Festival yang diselenggarakan oleh Komunitas Film Dokumenter ini mempunyai program pemutaran, diskusi, klinik film dan workshop dokumenter. Selain pemutaran film karya undangan, mereka mengadakan kompetisi untuk pemula dengan batasan durasi 15-25 menit. Kompetisi ini dinilai Dewan Juri yang ditunjuk oleh panitia penyelenggara. Pada FFD 2004 anggota jurinya Garin Nugroho, PM Laksono, Seno Gumira, Alain Compost dan CQ. van Heeren. Tahun ini FFD akan mengadakan pula kompetisi untuk pembuat film dokumenter profesional selain menambah jumlah program lainnya sehingga festival akan berlangsung selama 1 bulan dimulai sejak pertengahan November 2005. Kontak panitia dapat melalui: www.komunitas-dokumenter.org

 

Q Film Festival/QFF - Jakarta

Festival non kompetisi ini diselenggarakan oleh Q-munity sejak tahun 2002. QFF dapat disebut sebagai festival film pertama di Indonesia dengan tema khusus Gay, Lesbian & AIDS. Agak sulit menentukan bahwa QFF adalah festival film lokal, karena lingkup jaringannya yang internasional. Selain pemutaran film dari berbagai negara diikuti diskusi oleh pembuat filmnya yang biasanya hadir atas biaya sendiri, terdapat juga seminar, pameran foto “Roman Homo[gen]” dan bahkan pameran lukisan. Sejak tahun lalu QFF mulai mengadakan Queer Karaoke Party yang sukses menjadi acara yang paling ditunggu-tunggu tahun ini. Penyelenggaraan QFF setiap bulan September tersebar di berbagai tempat alternatif dan pusat budaya asing karena sifatnya yang underground. Ini mengingat John Badalu, direktur QFF sering mendapat ancaman dari kaum fundamentalis yang menentang berlangsungnya festival ini. Setelah festival biasanya dilanjutkan dengan roadshow ke berbagai kota lain. Kontak panitia dapat melalui www.qfilmfestival.com

 

Hello;Fest - Jakarta

Hello;Fest Motion Art Festival yang diadakan oleh Hello;Motion sejak tahun 2004 mengkhususkan diri pada Film Pendek dan Animasi. Hello;Motion merupakan sekolah animasi dan film yang berlangsung singkat, yaitu selama 4 bulan setiap kelasnya. Hello;Fest sendiri awalnya hanya diperuntukkan bagi lulusan sekolah tersebut dan berubah menjadi umum karena banyaknya peserta luar yang ingin terlibat. Selain pemutaran film karya undangan dari dalam dan luar Indonesia, terdapat Hello;Fest Award yang 4 pemenangnya ditentukan oleh perolehan suara penonton terbanyak. Kontak panitia dapat melalui www.hellomotion.com

 

Agenda Festival Film atau event film mendatang:

 

Boemboe Forum – Teater Utan Kayu Jakarta, 4 September 2005

Forum film pendek dari Boemboe ini mempresentasikan dan mediskusikan hanya 6 hingga 8 film terpilih dari berbagai kota di Jawa dan akan dihadiri oleh pembuat film yang bersangkutan serta publik pencinta film pendek. Kontak: boemboeforum@yahoo.com

 

Festival Film Animasi Indonesia – Taman Ismail Marzuki Jakarta, 16-24 September 2005 & Taman Budaya Jogjakarta, 25-28 September 2005

Festival yang berskala internasional ini awalnya merupakan bagian dari Pekan Komik dan Animasi Nasional yang berlangsung setiap 2 tahun sekali dan diprakarsai oleh Gotot Prakosa. Kontak: animasindofest@yahoo.com

 

Q Film Festival - Jakarta, 16-25 September 2005

(Baca profil QFF di atas)

 

Sulasfifest (Surabaya Tigabelas Film Festival) – Balai Pemuda Surabaya, 27-29 September 2005

Festival yang baru diselenggarakan pertama kalinya ini digagas oleh komunitas INFIS (Independen Film Surabaya), merupakan kompetisi film berdurasi maksimal 13 menit dengan Dewan Juri dari praktisi perfilman, disertai pemutaran film karya undangan dan diskusi dengan tema-tema seputar ide karya film, pertumbuhan film serta jalur distribusinya. Kontak: klikaja_infis@yahoo.com

 

Lulu Ratna, pemerhati festival film & distributor film pendek